ITime.id .JAKARTA –29 September 2026 . Film drama keluarga “Istimewa” mengangkat kisah lima anak penyandang disabilitas yang tumbuh bersama dalam sebuah keluarga penuh kasih sayang. Film ini tidak hanya menyuguhkan cerita keluarga, tetapi juga membawa pesan mengenai persahabatan, penerimaan, kesetaraan, dan kesempatan bagi penyandang disabilitas.
Pesan tersebut turut mendapat perhatian melalui acara nonton bersama yang digelar DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Minggu (27/9/2026) malam.
Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep hadir dalam kegiatan tersebut sekitar pukul 18.30 WIB. Kehadirannya disambut sejumlah jajaran PSI, di antaranya Sekretaris Dewan Pembina PSI Grace Natalie dan Wakil Ketua Umum DPP PSI Isyana Bagoes Oka.
Film “Istimewa” sendiri bercerita tentang Aldo, Bimo, Ken, Nita, dan Mul, lima anak penyandang disabilitas yang tinggal di Rumah Istimewa. Mereka menjalani kehidupan bersama Pak Mahendra, sosok yang telah mereka anggap sebagai ayah, serta Mbak Kinan, seorang sukarelawan yang setia mendampingi dan merawat mereka.
Kehidupan mereka berubah ketika Pak Mahendra harus pergi. Kelima anak tersebut kemudian berusaha mencari sosok ayah yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.
Perjalanan pencarian itu membawa mereka menghadapi berbagai pengalaman dan rintangan. Mereka juga bertemu dengan sejumlah tokoh yang kemudian ikut mengubah perjalanan mereka. Di tengah perjalanan tersebut, persahabatan, kepercayaan, keberanian, dan arti keluarga menjadi bagian penting dari cerita.
Film yang disutradarai Ruben Adrian dan diproduseri Abdullah Mansuri tersebut diproduksi oleh Kairos Film. “Istimewa” mulai tayang di bioskop Indonesia pada 17 September 2026 dengan durasi sekitar 119 menit.
Menariknya, film ini menempatkan anak-anak penyandang disabilitas sebagai bagian utama dari cerita. Pendekatan tersebut memberikan ruang bagi penonton untuk melihat bahwa kehidupan penyandang disabilitas tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan, tetapi juga tentang mimpi, persahabatan, kasih sayang, keberanian, dan kemampuan untuk menjalani kehidupan.
Kegiatan nonton bersama yang melibatkan tokoh publik pun menjadi salah satu bentuk perhatian terhadap pesan yang dibawa film tersebut. Melalui karya seni dan perfilman, isu kesetaraan dan inklusivitas dapat diperkenalkan kepada masyarakat dengan cara yang lebih dekat dan mudah dipahami.
“Istimewa” pada akhirnya bukan hanya bercerita tentang perjalanan lima anak mencari sosok ayah. Film ini juga mengajak penonton memahami bahwa keluarga dapat dibangun melalui kasih sayang, kepedulian, penerimaan, dan kesediaan untuk saling menjaga.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa penyandang disabilitas merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki hak untuk memperoleh kesempatan, penghormatan, serta ruang yang setara dalam kehidupan sosial.
(Reina)
