ITime.id .Bantar Gebang 5 Agustus 2026 .selama ini dikenal sebagai tempat pembuangan akhir terbesar di Indonesia sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi ribuan pemulung. Namun, di balik kabar berkurangnya volume sampah yang masuk akibat meningkatnya program pengelolaan sampah dan daur ulang, muncul persoalan baru yang mulai dirasakan warga kampung pemulung.
Bagi sebagian masyarakat, berkurangnya sampah merupakan kabar baik karena mencerminkan meningkatnya kesadaran terhadap pengelolaan limbah. Namun, bagi para pemulung, kondisi tersebut justru berarti semakin sedikit barang bernilai yang dapat dikumpulkan untuk dijual kembali.
Pendapatan harian para pemulung dilaporkan mengalami penurunan. Jika sebelumnya mereka dapat memperoleh cukup banyak plastik, kardus, logam, dan barang bekas lainnya, kini hasil yang didapat semakin sedikit sehingga berdampak langsung pada penghasilan keluarga.
Kondisi ini juga memengaruhi aktivitas ekonomi di sekitar kawasan Bantar Gebang. Pengepul barang bekas, warung makan, hingga usaha kecil yang bergantung pada aktivitas para pemulung ikut merasakan penurunan perputaran ekonomi.
Sejumlah pemerhati sosial menilai perubahan ini perlu diantisipasi melalui program pemberdayaan masyarakat. Pelatihan keterampilan, akses pekerjaan alternatif, hingga penguatan usaha mikro dinilai penting agar warga kampung pemulung tidak sepenuhnya bergantung pada sampah sebagai sumber penghasilan.
Di sisi lain, upaya pemerintah dalam mengurangi timbulan sampah tetap menjadi langkah penting untuk menjaga lingkungan. Tantangan ke depan adalah memastikan proses transisi tersebut berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap masyarakat yang selama ini menggantungkan hidupnya dari sektor persampahan.
Dengan demikian, berkurangnya sampah di Bantar Gebang bukan hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga persoalan sosial dan ekonomi yang memerlukan perhatian bersama agar tidak menimbulkan krisis baru bagi ribuan keluarga pemulung.
(Reina)
