ITime.id. SOLO –5 Agustus 2026 . Pusat Grosir Solo (PGS), salah satu ikon perdagangan tekstil dan pusat belanja terbesar di Kota Solo, resmi menghentikan operasionalnya secara permanen. Penutupan ini menjadi pukulan berat bagi dunia usaha karena ribuan orang diperkirakan terdampak dan berpotensi kehilangan mata pencaharian.
Penutupan PGS terjadi setelah pengelola dinyatakan pailit. Kondisi tersebut mengakhiri perjalanan pusat grosir yang telah beroperasi selama lebih dari dua dekade dan menjadi tempat bergantungnya ratusan pedagang, karyawan toko, petugas keamanan, tenaga kebersihan, hingga pekerja pendukung lainnya.
Manajemen memperkirakan dampak penutupan tidak hanya dirasakan oleh sekitar 400 pekerja yang masih aktif pada akhir operasional, tetapi juga dapat mencapai ribuan orang jika dihitung sejak proses pengosongan tenant berlangsung secara bertahap. Banyak pedagang yang pindah ke lokasi lain terpaksa mengurangi jumlah karyawan karena keterbatasan ruang usaha dan meningkatnya biaya operasional.
Pemerintah Kota Solo menyatakan akan memberikan pendampingan kepada pedagang dan pekerja yang terdampak. Sejumlah kios kosong di pasar tradisional milik pemerintah akan ditawarkan kepada pedagang, sementara para karyawan yang kehilangan pekerjaan akan difasilitasi melalui program penyaluran tenaga kerja agar dapat kembali memperoleh pekerjaan.
Bagi banyak pedagang, penutupan PGS bukan sekadar berakhirnya aktivitas perdagangan, tetapi juga hilangnya tempat yang selama bertahun-tahun menjadi pusat perputaran ekonomi dan sumber penghidupan keluarga. Suasana yang dahulu dipenuhi aktivitas jual beli kini berubah menjadi deretan kios kosong yang meninggalkan kenangan panjang bagi para pelaku usaha.
Penutupan permanen PGS menjadi pengingat bahwa persoalan hukum dan pengelolaan usaha dapat berdampak luas terhadap perekonomian daerah. Harapannya, berbagai langkah penyelamatan yang disiapkan pemerintah mampu membantu para pedagang dan pekerja untuk bangkit serta kembali memperoleh sumber penghasilan baru.
( Reina)
