ITime.id .Salatiga –6Agustus 2026 Kebijakan Pemerintah Kota Salatiga yang mulai melarang sampah organik rumah tangga dibuang ke TPS, TPS3R, maupun TPA sejak 1 Agustus 2026 mulai menimbulkan beragam respons dari masyarakat. Sebagian warga mengaku masih kebingungan karena belum memiliki cara mengelola sampah organik di rumah. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya mengurangi beban TPA dan mendorong pengelolaan sampah dari sumbernya.
Selama ini, sampah sisa makanan, sayuran, buah-buahan, dan daun kering menjadi jenis sampah yang paling banyak dihasilkan rumah tangga. Ketika tidak lagi diangkut ke TPA, banyak warga bertanya-tanya harus dibuang ke mana sampah tersebut.
Meski demikian, para pemerhati lingkungan menilai kebijakan ini justru menjadi momentum bagi masyarakat untuk mulai mengubah kebiasaan lama. Sampah organik sebenarnya dapat diolah menjadi kompos, pupuk cair organik, atau dimanfaatkan sebagai pakan maggot sehingga memiliki nilai ekonomi sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.
Beberapa solusi yang dapat diterapkan masyarakat antara lain:
- Membuat komposter sederhana di halaman atau pekarangan rumah.
- Memanfaatkan lubang biopori untuk mengurai sampah organik.
- Mengolah sisa makanan menjadi pupuk kompos.
- Menyetorkan sampah organik ke bank sampah atau komunitas pengolah sampah apabila tersedia.
- Mengembangkan budidaya maggot sebagai pengurai sampah organik sekaligus menghasilkan pakan ternak bernilai jual.
Selain peran masyarakat, dukungan pemerintah juga dinilai sangat penting. Sosialisasi yang lebih masif, pelatihan pembuatan kompos, penyediaan fasilitas pengolahan di tingkat kelurahan, hingga pendampingan kepada warga diharapkan dapat mempercepat keberhasilan kebijakan ini.
Jika diterapkan secara konsisten, pengelolaan sampah organik dari sumbernya tidak hanya mampu mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA, tetapi juga menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. Tantangan saat ini bukan sekadar melarang pembuangan sampah organik ke TPA, melainkan memastikan masyarakat memiliki solusi yang mudah, murah, dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
(Reina)
