ITime.id .JAKARTA – 9 Agustus 2026 .Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap fenomena El Niño yang saat ini semakin menguat. Kondisi tersebut berpotensi membuat musim kemarau di Indonesia berlangsung lebih kering dan lebih panjang dari kondisi normal.
Berdasarkan pemantauan BMKG, El Niño 2026 telah aktif dan berpotensi mencapai kategori sangat kuat. Fenomena ini diperkirakan memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap kondisi cuaca dan iklim di Indonesia, terutama ketika bertepatan dengan puncak musim kemarau.
BMKG sebelumnya memprediksi puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Juli hingga September. Namun, Agustus menjadi bulan dengan wilayah terdampak puncak kemarau paling luas, yakni sekitar 48,84 persen wilayah daratan Indonesia berdasarkan pemutakhiran Juni 2026.
Penguatan El Niño perlu menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko berkurangnya curah hujan. Kondisi tersebut berpotensi memicu kekeringan, berkurangnya ketersediaan air, gangguan pada sektor pertanian, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Data BMKG juga menunjukkan kondisi kering semakin meluas. Pada dasarian II Juli 2026, sekitar 72,8 persen wilayah Indonesia atau 509 Zona Musim telah memasuki musim kemarau. Sejumlah wilayah bahkan mengalami hari tanpa hujan dalam kategori panjang hingga ekstrem panjang.
BMKG menegaskan bahwa masyarakat dan pemerintah daerah perlu melakukan langkah antisipasi sejak dini, terutama dalam menjaga ketersediaan air, menghemat penggunaan air bersih, mempersiapkan kebutuhan pertanian, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan.
Fenomena El Niño sendiri berkaitan dengan peningkatan suhu permukaan laut di wilayah tengah Samudra Pasifik. Ketika fenomena tersebut menguat, dampaknya terhadap pola cuaca Indonesia dapat semakin terasa, terutama berupa berkurangnya curah hujan pada wilayah-wilayah tertentu.
Dengan puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada Agustus 2026, BMKG meminta seluruh pihak tidak menganggap kondisi ini sebagai hal biasa. Kesiapsiagaan diperlukan agar dampak El Niño terhadap kehidupan masyarakat, pertanian, sumber daya air, dan lingkungan dapat ditekan.
BMKG juga terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan El Niño dan kondisi atmosfer secara berkala. Masyarakat diimbau mengikuti informasi resmi BMKG agar dapat menyesuaikan aktivitas dan mengambil langkah mitigasi sesuai perkembangan cuaca dan iklim di masing-masing wilayah.
(Reina)
