ITime.id .JAKARTA –28 Agustus 2026 . Indonesia menghadapi ancaman serius dari fenomena El Niño pada 2026. Penguatan El Niño yang bertepatan dengan musim kemarau membuat sejumlah wilayah harus bersiap menghadapi kondisi yang lebih kering, berkurangnya ketersediaan air, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, hingga gangguan terhadap sektor pertanian.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan El Niño 2026 telah aktif dan berpotensi mencapai kategori sangat kuat. Kondisi tersebut diperkirakan memberikan dampak paling nyata ketika terjadi bersamaan dengan periode musim kemarau di Indonesia.
Situasi ini membuat musim kemarau 2026 menjadi salah satu periode yang perlu mendapat perhatian serius. BMKG sebelumnya memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Kemarau 2026 Datang Lebih Awal
Sejak awal 2026, BMKG telah memberikan peringatan bahwa musim kemarau tahun ini berpotensi datang lebih awal di sejumlah wilayah Indonesia.
Dalam pemutakhiran prediksi musim kemarau Juni 2026, BMKG menyebut sebanyak 482 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 56,18 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami musim kemarau dengan sifat hujan di bawah normal atau lebih kering dari biasanya.
Sementara itu, sekitar 437 ZOM atau 48,77 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami durasi musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dan meluas hingga September di sejumlah wilayah.
Kondisi tersebut menjadi semakin serius karena El Niño terus menguat memasuki pertengahan tahun.
Hari Tanpa Hujan Semakin Panjang
Dampak kemarau mulai terlihat di sejumlah daerah. Hari tanpa hujan yang semakin panjang menyebabkan tanah kehilangan kelembapan dan sumber-sumber air masyarakat mulai mengalami penurunan debit.
BMKG melaporkan bahwa pada akhir Juli 2026 kondisi kekeringan telah terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Tengah. Kondisi kering tersebut juga disertai peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah.
Bagi masyarakat yang mengandalkan sumur, mata air, embung maupun sungai untuk kebutuhan sehari-hari, kemarau panjang dapat menjadi persoalan serius apabila cadangan air terus berkurang.
Di wilayah pedesaan, kekeringan juga dapat memberikan tekanan terhadap petani. Lahan pertanian yang tidak mendapatkan pasokan air memadai berpotensi mengalami penurunan produktivitas, terutama tanaman yang membutuhkan banyak air.
Ancaman Kekeringan Tidak Hanya di Jawa
Ancaman kekeringan tidak hanya terjadi di Pulau Jawa. Kondisi kering juga perlu diwaspadai di berbagai wilayah Indonesia, terutama daerah yang secara klimatologis memang memiliki musim kemarau lebih panjang.
Wilayah Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi hingga sebagian wilayah Indonesia timur perlu meningkatkan kesiapsiagaan sesuai perkembangan cuaca dan iklim masing-masing daerah.
BMKG juga memperingatkan bahwa kombinasi musim kemarau dan El Niño dapat meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan. Hingga akhir Juli, ribuan titik panas telah terdeteksi, dengan konsentrasi di sejumlah wilayah rawan seperti Kalimantan dan Sumatra.
Kondisi vegetasi yang mengering membuat api lebih mudah menyebar. Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, terutama ketika angin dan kondisi cuaca mendukung penyebaran api.
El Niño Diperkirakan Bertahan Hingga 2027
Yang menjadi perhatian adalah durasi fenomena El Niño. BMKG memperkirakan fenomena tersebut dapat bertahan hingga awal 2027.
Namun, dampak terbesar terhadap Indonesia diperkirakan terjadi ketika El Niño bertepatan dengan musim kemarau. Artinya, meskipun El Niño dapat berlangsung lebih lama, tingkat dampaknya terhadap masyarakat sangat bergantung pada kondisi musim dan wilayah masing-masing.
BMKG juga memperingatkan adanya potensi fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada September hingga Desember 2026 yang dapat memperkuat kondisi kering di sebagian wilayah Indonesia.
Pemerintah Mulai Perkuat Mitigasi
Menghadapi ancaman kekeringan dan karhutla, pemerintah bersama BMKG dan sejumlah lembaga terkait mulai memperkuat langkah mitigasi.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengoptimalkan potensi awan hujan di wilayah yang membutuhkan tambahan curah hujan.
BMKG juga telah melakukan operasi modifikasi cuaca di sejumlah daerah yang menghadapi persoalan kekeringan maupun ancaman karhutla. Pada 25 Agustus 2026, BMKG bersama OIKN, TNI AU, BNPB dan Pemerintah Kalimantan Timur bahkan melaksanakan OMC untuk membantu mengatasi defisit air di Waduk Sepaku sekaligus mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan.
Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi menghadapi musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung di sejumlah wilayah.
Masyarakat Diminta Hemat Air
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat memiliki peran penting dalam mengurangi dampak kemarau panjang.
Penggunaan air perlu dilakukan secara bijak. Masyarakat di wilayah rawan kekeringan disarankan menghemat air untuk kebutuhan utama, tidak membuang-buang air bersih, serta menjaga sumber mata air dan lingkungan di sekitar tempat tinggal.
Pemerintah daerah juga diharapkan menyiapkan langkah antisipasi apabila terjadi krisis air bersih, termasuk distribusi air menggunakan mobil tangki kepada masyarakat yang sumber airnya mulai mengering.
Di sektor pertanian, penyesuaian pola tanam dan pemilihan komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi kering juga menjadi bagian penting dalam menghadapi risiko musim kemarau.
Waspada Kebakaran Hutan dan Lahan
Selain kekeringan, ancaman lain yang tidak kalah serius adalah kebakaran hutan dan lahan.
Rumput, semak, gambut dan vegetasi yang mengering dapat menjadi bahan bakar ketika terjadi kebakaran. Api yang awalnya kecil dapat meluas dengan cepat apabila kondisi angin cukup kuat dan kelembapan udara rendah.
Karena itu, masyarakat diminta tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar, khususnya di daerah yang sedang mengalami kondisi sangat kering.
Pemerintah juga perlu meningkatkan patroli di wilayah rawan kebakaran serta mempercepat penanganan apabila muncul titik api.
Kemarau 2026 Perlu Diantisipasi Bersama
Fenomena El Niño pada 2026 tidak semata-mata menjadi persoalan cuaca. Dampaknya dapat merembet ke berbagai sektor kehidupan masyarakat, mulai dari ketersediaan air bersih, pertanian, pangan, kesehatan, peternakan hingga lingkungan.
BMKG memprediksi puncak musim kemarau berlangsung pada Juli–September 2026, dengan Agustus menjadi bulan puncak bagi wilayah terluas.
Karena itu, masyarakat tidak perlu panik, tetapi harus meningkatkan kewaspadaan. Informasi resmi mengenai cuaca dan iklim perlu menjadi acuan dalam mengambil keputusan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan kekeringan dan kebakaran hutan.
Kemarau panjang 2026 menjadi pengingat bahwa perubahan kondisi iklim dapat memberikan dampak besar terhadap kehidupan masyarakat. Penghematan air, menjaga lingkungan, mencegah pembakaran lahan dan memperkuat kesiapsiagaan menjadi langkah sederhana namun penting untuk menghadapi ancaman kekeringan.
El Niño 2026 memang menjadi perhatian serius, tetapi dampaknya dapat ditekan apabila pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan seluruh pemangku kepentingan bergerak bersama sejak dini.
(Reina)
