ITime.id .JAKARTA — 29 Agustus 2026 .Nama mantan Presiden Soeharto kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah unggahan yang beredar menampilkan potongan video, foto, hingga cerita masyarakat tentang kehidupan pada masa pemerintahan Orde Baru.
Di tengah berbagai persoalan ekonomi, politik, dan sosial yang dirasakan masyarakat saat ini, nostalgia terhadap masa kepemimpinan Soeharto selama lebih dari tiga dekade kembali muncul.
Sebagian warganet menilai ada sejumlah kebijakan pada era Soeharto yang patut dikenang, terutama terkait stabilitas politik, pembangunan infrastruktur, ketahanan pangan, serta pengendalian harga kebutuhan pokok pada periode tertentu.
Tidak sedikit pula masyarakat yang mengaku masih mengingat kehidupan masa itu sebagai masa yang sederhana, aman dan relatif tenang.
Harga Kebutuhan Pokok Jadi Bagian dari Nostalgia
Salah satu hal yang paling banyak dibicarakan adalah harga kebutuhan pokok.
Cerita mengenai harga beras, bahan bakar, minyak goreng dan kebutuhan sehari-hari yang dianggap lebih terjangkau kerap muncul dalam unggahan media sosial.
Nostalgia tersebut semakin kuat ketika masyarakat membandingkan kehidupan masa lalu dengan kondisi sekarang, ketika biaya hidup dan kebutuhan rumah tangga dirasakan semakin berat.
Namun, kondisi ekonomi Orde Baru sebenarnya tidak selalu sama sepanjang 32 tahun pemerintahan Soeharto. Indonesia juga pernah mengalami pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang signifikan, tetapi kemudian menghadapi krisis ekonomi berat pada 1997–1998 yang menjadi salah satu faktor penting berakhirnya pemerintahan Orde Baru.
Stabilitas Politik Menjadi Ciri Utama
Pemerintahan Soeharto memang menjadikan stabilitas nasional sebagai salah satu prioritas utama.
Kebijakan politik Orde Baru diarahkan untuk menciptakan kondisi negara yang tertib sehingga pembangunan ekonomi dapat berlangsung secara berkelanjutan. Ensiklopedia Sejarah Indonesia dari Kementerian Kebudayaan mencatat stabilitas nasional menjadi bagian penting dari strategi pembangunan Orde Baru.
Bagi sebagian masyarakat, stabilitas tersebut diterjemahkan sebagai kehidupan yang lebih aman dan tidak banyak diwarnai konflik politik terbuka.
Namun, stabilitas itu juga memiliki konsekuensi. Ruang politik dan kebebasan menyampaikan kritik pada masa tersebut jauh lebih terbatas dibandingkan era Reformasi.
Karena itu, pengalaman masyarakat terhadap pemerintahan Soeharto tidak sepenuhnya sama.
Ada yang mengingatnya sebagai masa pembangunan dan ketertiban. Ada pula yang mengingatnya sebagai periode ketika kritik politik dan kebebasan masyarakat dibatasi.
Pembangunan Besar-besaran
Salah satu warisan yang sering disebut ketika membicarakan Soeharto adalah pembangunan.
Pada masa Orde Baru, pemerintah menjalankan pembangunan infrastruktur, pendidikan, pertanian dan berbagai program pembangunan nasional secara besar-besaran.
Program pembangunan tersebut ikut mengubah kehidupan masyarakat Indonesia, terutama di wilayah pedesaan.
Produksi pangan meningkat, akses pendidikan berkembang dan berbagai fasilitas publik dibangun. Sejumlah kajian sejarah juga mencatat adanya peningkatan produksi pangan dan pendidikan selama periode tersebut.
Bagi generasi yang mengalami langsung periode itu, pembangunan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa sosok Soeharto masih memiliki tempat dalam ingatan sebagian masyarakat.
Tetap Ada Sisi Gelap yang Tidak Bisa Dilupakan
Di tengah munculnya nostalgia, sejarah Orde Baru tetap perlu dilihat secara utuh.
Selama lebih dari tiga dekade berkuasa, pemerintahan Soeharto juga menghadapi kritik terkait korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), konsentrasi kekuasaan, serta pembatasan kehidupan politik. Sejumlah catatan sejarah mengenai Orde Baru menyebut persoalan tersebut sebagai salah satu kelemahan utama rezim tersebut.
Krisis ekonomi 1997–1998 kemudian memperburuk keadaan. Nilai rupiah jatuh, harga kebutuhan pokok melonjak dan demonstrasi mahasiswa terjadi di berbagai daerah.
Situasi tersebut akhirnya berujung pada pengunduran diri Soeharto sebagai presiden pada 21 Mei 1998, sekaligus menandai berakhirnya Orde Baru dan dimulainya era Reformasi.
Mengapa Nostalgia Soeharto Kembali Muncul?
Fenomena ini menunjukkan bahwa penilaian masyarakat terhadap masa lalu bisa berubah mengikuti keadaan zaman.
Ketika masyarakat menghadapi mahalnya biaya hidup, ketidakpastian ekonomi, konflik politik dan berbagai persoalan sosial, sebagian orang mulai membandingkannya dengan pengalaman hidup mereka pada masa lalu.
Dari sinilah muncul kalimat seperti, “Dulu hidup sederhana tetapi terasa aman dan murah.”
Namun, nostalgia tidak selalu menggambarkan keseluruhan kenyataan sejarah.
Setiap zaman mempunyai keberhasilan dan persoalannya sendiri. Era Soeharto memiliki catatan pembangunan dan stabilitas yang kuat, tetapi juga meninggalkan persoalan politik, KKN dan kebebasan sipil yang menjadi bagian penting dalam perjalanan Indonesia menuju Reformasi.
Karena itu, viralnya kembali sosok Soeharto di media sosial lebih tepat dipandang sebagai perdebatan publik mengenai pengalaman masa lalu dan kondisi Indonesia saat ini, bukan sebagai bukti bahwa seluruh kebijakan Orde Baru terbukti benar.
Pada akhirnya, sejarah bukan hanya tentang siapa yang dipuji atau disalahkan, melainkan tentang pelajaran apa yang dapat diambil agar Indonesia ke depan mampu mempertahankan stabilitas dan pembangunan tanpa mengorbankan demokrasi, keadilan dan hak masyarakat.
(Reina)
