ITime.id .SEMARANG —4 September 2026 . Rencana pengembangan energi panas bumi atau geothermal di kawasan Gunung Ungaran, Jawa Tengah, menuai penolakan dari masyarakat. Ribuan orang telah membubuhkan tanda tangan dalam petisi yang meminta rencana pengeboran geothermal tersebut dihentikan atau dikaji kembali.
Petisi yang digagas warga melalui platform Change.org itu menjadi wadah penyampaian kekhawatiran masyarakat terhadap masa depan Gunung Ungaran, khususnya keberadaan sumber mata air yang selama ini menjadi salah satu penopang kehidupan warga di kawasan sekitarnya.
Hingga 3 September 2026, jumlah pendukung petisi dilaporkan telah menembus lebih dari 7.000 tanda tangan. Petisi tersebut menegaskan bahwa penolakan bukan semata-mata karena masyarakat menentang pembangunan energi terbarukan, melainkan karena adanya kekhawatiran terhadap dampak lingkungan yang mungkin muncul apabila kegiatan pengeboran dilakukan di kawasan Gunung Ungaran.
Mata Air Menjadi Perhatian Warga
Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Ungaran, keberadaan mata air memiliki arti penting. Air digunakan untuk kebutuhan sehari-hari sekaligus mendukung aktivitas pertanian masyarakat.
Kekhawatiran muncul karena warga tidak ingin aktivitas eksplorasi panas bumi justru mengganggu keseimbangan air di kawasan tersebut. Terlebih, sejumlah warga disebut telah merasakan berkurangnya aliran air pada musim kemarau dalam beberapa tahun terakhir.
Masyarakat khawatir apabila kondisi tersebut ditambah dengan aktivitas pengeboran, keberadaan mata air dapat semakin tertekan.
Petisi tersebut menyuarakan agar sumber air dan kelestarian lingkungan tidak dipertaruhkan demi sebuah proyek pembangunan.
Rencana Eksplorasi Capai Puluhan Ribu Hektare
Rencana pengembangan panas bumi Gunung Ungaran mencakup wilayah sekitar 29.800 hektare. Dalam tahap eksplorasi, pengeboran disebut dapat mencapai kedalaman sekitar 2.000 meter untuk mengetahui potensi reservoir panas bumi.
Rencana tersebut kemudian memunculkan kekhawatiran baru di tengah masyarakat. Selain sumber mata air, warga dan kelompok pemerhati lingkungan juga menyoroti keberadaan hutan, lahan pertanian, kawasan wisata serta situs budaya yang berada di sekitar Gunung Ungaran.
Sejumlah pihak menilai seluruh aspek tersebut perlu diperhitungkan secara matang sebelum kegiatan eksplorasi dilakukan.
Bukan Menolak Energi Bersih
Pesan yang muncul dari petisi tersebut adalah masyarakat tidak ingin dicap sebagai kelompok yang anti terhadap energi terbarukan.
Energi panas bumi memang merupakan salah satu sumber energi yang dapat dikembangkan untuk mendukung kebutuhan listrik. Namun, masyarakat meminta agar pembangunan tetap memperhatikan daya dukung lingkungan dan keberlangsungan kehidupan warga.
Prinsipnya, kebutuhan energi nasional diharapkan tetap dapat berjalan tanpa mengorbankan sumber air yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat.
Pemprov Jateng Siap Jembatani Aspirasi
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyatakan siap menjadi jembatan antara masyarakat dengan pemerintah pusat terkait polemik rencana pengembangan geothermal Gunung Ungaran.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan Pemprov Jateng masih mendalami rencana tersebut dan membuka ruang dialog secara transparan bagi masyarakat yang memiliki kekhawatiran maupun keberatan.
Langkah dialog tersebut dinilai penting agar persoalan geothermal Gunung Ungaran tidak berkembang menjadi konflik antara kebutuhan pembangunan energi dan kepentingan masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Bagi warga, Gunung Ungaran bukan sekadar kawasan pegunungan. Di balik bentang alamnya terdapat sumber air, lahan pertanian, ruang hidup, kawasan wisata dan warisan budaya yang selama ini memberikan manfaat bagi masyarakat.
Karena itu, suara ribuan penanda tangan petisi menjadi pengingat bahwa pembangunan energi perlu berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan.
(Reina)
