ITime.id .SIDOARJO, JAWA TIMUR —5 September 2026 . Dua dekade telah berlalu sejak semburan lumpur panas muncul di kawasan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, pada 29 Mei 2006. Namun, 20 tahun kemudian, kisah Lumpur Lapindo masih menyisakan dampak yang dirasakan masyarakat hingga sekarang.
Fenomena yang kemudian dikenal luas sebagai Lumpur Lapindo atau Lumpur Sidoarjo itu tidak hanya mengubah bentang alam kawasan Porong, tetapi juga mengubah kehidupan masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak.
Rumah, lahan, tempat usaha, hingga lingkungan sosial warga terdampak menjadi bagian dari sejarah panjang bencana tersebut. Sejumlah warga harus meninggalkan kampung halaman dan memulai kehidupan dari tempat baru.
Memasuki 2026, perhatian terhadap kawasan Lumpur Sidoarjo kembali menguat seiring peringatan 20 tahun peristiwa tersebut. Warga Jawa Timur bahkan menggelar kegiatan doa dan tabur bunga di kawasan lumpur pada 29 Mei 2026 untuk mengenang peristiwa yang telah mengubah kehidupan ribuan masyarakat.
Bukan Sekadar Lumpur
Dampak Lumpur Lapindo tidak berhenti pada genangan lumpur. Persoalan sosial dan ekonomi juga menjadi bagian panjang dari perjalanan masyarakat terdampak.
Sebagian warga kehilangan aset dan mata pencaharian. Mereka juga harus beradaptasi dengan lingkungan baru setelah kawasan tempat tinggal mereka berubah akibat semburan lumpur.
Sejumlah kajian menyebut dampaknya mencakup aspek ekonomi, sosial, hingga lingkungan. Karena itu, peristiwa ini menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah pengelolaan lingkungan dan mitigasi risiko industri di Indonesia.
Dua Dekade Berlalu, Semburan Masih Menjadi Perhatian
Meski telah berlangsung sekitar 20 tahun, kawasan Lumpur Sidoarjo masih mendapatkan perhatian pemerintah. Pada April 2026, kunjungan ke Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo atau PPLS turut menyoroti kondisi semburan yang masih memerlukan perhatian serius.
Kondisi terkini kawasan tersebut juga masih menjadi perhatian masyarakat. Pada Juli 2026, sempat diberitakan adanya rembesan lumpur di luar tanggul, sementara PPLS menyatakan kondisi tanggul masih aman dan rembesan diperkirakan tidak meluas.
Menjadi Pengingat bagi Generasi Mendatang
Viralnya kembali kisah Lumpur Lapindo di media sosial, termasuk melalui berbagai konten TikTok, menunjukkan bahwa tragedi tersebut belum sepenuhnya hilang dari ingatan masyarakat.
Bagi generasi yang tidak mengalami langsung peristiwa 2006, kawasan Lumpur Sidoarjo menjadi pengingat bahwa sebuah bencana lingkungan dapat meninggalkan dampak yang jauh lebih panjang dibandingkan usia sebuah pemberitaan.
20 tahun bukan waktu yang singkat. Namun bagi masyarakat yang pernah kehilangan rumah, lingkungan, mata pencaharian, dan kampung halaman, waktu tidak selalu mampu menghapus seluruh kenangan.
Lumpur Lapindo hari ini bukan hanya tentang semburan lumpur, tetapi juga tentang perjalanan panjang masyarakat untuk bertahan, beradaptasi, dan melanjutkan kehidupan.
Dua dekade telah berlalu, tetapi cerita tentang Lumpur Sidoarjo masih terus berjalan.
(Reina)
