ITime.id .MALUKU UTARA —7 September 2026:.Menjadi seorang gubernur bukan berarti harus selalu berada di balik meja dan menjaga jarak dengan masyarakat.
Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda justru memperlihatkan sisi berbeda. Ia memilih hadir lebih dekat dengan anak-anak Pramuka, berbaur dan menikmati kebersamaan meski harus berada di bawah terik matahari.
Momen tersebut memperlihatkan sisi humanis seorang pemimpin. Di tengah kesibukan menjalankan tugas pemerintahan, Sherly tetap menyempatkan diri untuk berinteraksi dengan generasi muda.
Bagi anak-anak Pramuka, kehadiran seorang gubernur tentu bukan sekadar pertemuan biasa. Ada pesan pendidikan karakter yang bisa dipetik dari kebersamaan tersebut.
Mengajarkan Keadilan Lewat Keteladanan
Nilai keadilan tidak selalu harus diajarkan melalui teori panjang.
Anak-anak dapat belajar dari hal-hal sederhana, seperti menghargai teman, tidak membeda-bedakan orang lain, mau berbagi, bekerja sama dan memberikan kesempatan yang sama kepada siapa pun.
Ketika seorang pemimpin bersedia turun langsung dan berada di tengah-tengah mereka, pesan itu menjadi lebih mudah dipahami.
Kepemimpinan pun tidak hanya soal jabatan, tetapi juga tentang bagaimana seseorang memberikan contoh kepada generasi yang akan meneruskan masa depan daerah.
Pemimpin yang Tidak Berjarak
Sherly Tjoanda menunjukkan bahwa kedekatan dengan masyarakat, khususnya generasi muda, merupakan bagian penting dalam membangun hubungan antara pemimpin dan rakyat.
Berpanas-panasan bersama anak-anak Pramuka mungkin terlihat sederhana. Namun, dari momen sederhana tersebut tersimpan pesan besar tentang kebersamaan dan kepedulian.
Anak-anak membutuhkan sosok yang bukan hanya berbicara tentang masa depan, tetapi juga mau hadir dan mendengarkan mereka.
Pramuka sendiri memiliki nilai-nilai penting seperti disiplin, tanggung jawab, gotong royong, kemandirian dan kepedulian terhadap sesama.
Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting bagi generasi muda menghadapi perubahan zaman.
Membangun Maluku Utara dari Generasi Mudanya
Masa depan Maluku Utara tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur dan kebijakan pemerintah.
Lebih dari itu, masa depan daerah juga berada di tangan generasi muda.
Karena itu, kedekatan pemimpin dengan anak-anak menjadi penting. Dari mereka, harapan tentang Maluku Utara di masa depan sedang tumbuh.
Sherly Tjoanda seolah ingin menunjukkan bahwa menjadi pemimpin bukan berarti harus selalu berada di tempat yang tinggi.
Pemimpin justru harus mau turun, hadir, mendengar dan berjalan bersama masyarakat.
Dari kebersamaan dengan anak-anak Pramuka, pesan itu terasa sederhana tetapi kuat: keadilan dimulai dari tidak membeda-bedakan, sementara kepemimpinan dimulai dari keteladanan.
Dan mungkin, di bawah terik matahari itulah sebuah pelajaran tentang kepemimpinan justru terasa paling nyata.
(Reina)
