ITime.id .Salatiga 11 September 2026 .Ketika Media Muncul Hanya Saat Dibutuhkan, Publik Patut BertanyaDi tengah pesatnya perkembangan media online, keberadaan pers semakin mudah ditemukan. Hanya dengan sebuah situs, nama media, dan kanal pemberitaan, sebuah platform dapat hadir di tengah masyarakat.
Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan persoalan baru yang patut menjadi perhatian.
Salah satunya adalah dugaan munculnya media-media yang keberadaannya lebih banyak digunakan untuk kepentingan tertentu, termasuk mendorong takedown atau penghapusan pemberitaan yang berkaitan dengan kasus maupun persoalan tertentu.
Jika sebuah berita memang keliru, tidak berimbang, atau mengandung kesalahan, tentu terdapat mekanisme jurnalistik untuk melakukan koreksi, klarifikasi, hak jawab, maupun penyelesaian sesuai aturan.
Tetapi persoalannya menjadi berbeda apabila keberadaan media justru dimanfaatkan sebagai alat untuk menekan pihak tertentu agar sebuah informasi tidak lagi beredar.
Banyak Nama Media, Satu Kepentingan?
Fenomena kepemilikan atau pengelolaan banyak media sebenarnya bukan persoalan selama seluruh media tersebut dijalankan secara profesional.
Yang menjadi pertanyaan adalah ketika puluhan bahkan ratusan nama media digunakan dalam satu kepentingan tertentu, sementara aktivitas jurnalistiknya tidak terlihat konsisten.
Publik akhirnya bisa bertanya: apakah media tersebut benar-benar dibangun untuk menjalankan fungsi pers, atau hanya digunakan ketika ada kepentingan yang membutuhkan?
Apalagi jika sebuah media hanya aktif dalam waktu singkat, kemudian menghilang setelah kepentingan tertentu selesai.
Istilah seperti “media siluman” pun kemudian muncul di tengah masyarakat untuk menggambarkan fenomena tersebut.
Tentu istilah itu tidak boleh sembarangan dilekatkan kepada media tertentu tanpa bukti. Namun, fenomenanya tetap layak menjadi bahan evaluasi bagi seluruh insan pers.
Jangan Jadikan Takedown sebagai Komoditas
Media adalah bagian penting dari kehidupan demokrasi.
Karena itu, pemberitaan seharusnya tidak berubah menjadi alat tawar-menawar.
Berita bukan barang dagangan yang dapat dibuat untuk kepentingan tertentu, lalu dihapus ketika kepentingan tersebut telah terpenuhi.
Jika ada kesalahan dalam sebuah pemberitaan, penyelesaiannya harus ditempuh melalui mekanisme yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pers yang profesional tidak takut terhadap kritik, tetapi juga tidak boleh menjadikan pemberitaan sebagai sarana untuk memberikan tekanan kepada pihak lain.
Begitu pula pihak yang merasa dirugikan oleh sebuah berita memiliki hak untuk mendapatkan klarifikasi dan penyelesaian melalui jalur yang tersedia.
Sentilan untuk Oknum
Bagi siapa pun yang memiliki banyak media online, tidak ada yang salah selama seluruhnya dijalankan dengan standar jurnalistik dan tanggung jawab yang jelas.
Tetapi jika media hanya digunakan untuk kepentingan tertentu, termasuk sebagai alat untuk mengupayakan penghapusan berita, maka sudah saatnya praktik semacam itu dipertanyakan.
Sebab, yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi satu media, melainkan kepercayaan masyarakat terhadap pers secara keseluruhan.
Jangan sampai masyarakat melihat begitu banyak nama media, tetapi hanya menemukan satu kepentingan di belakangnya.
Dan satu pesan sederhana bagi siapa pun yang menggunakan media sebagai alat kepentingan:
Media boleh banyak, tetapi integritas tidak boleh dibagi-bagi. Pers boleh berkembang di dunia digital, tetapi jangan sampai fungsi pers justru kehilangan marwahnya.
Sebab pada akhirnya, media yang sehat bukanlah media yang paling banyak menghapus berita, melainkan media yang paling berani mempertanggungjawabkan apa yang telah diberitakannya.
( Reina)
