ITime.id — Salatiga 16 September 2026 .Dalam kehidupan rumah tangga, tidak semua luka terlihat oleh mata. Ada kesedihan yang disimpan dalam diam, ada air mata yang jatuh tanpa diketahui siapa pun, dan ada seorang istri yang memilih bertahan meski berkali-kali hatinya terluka.
Kehidupan rumah tangga seharusnya dibangun di atas kejujuran, kesetiaan, saling menghormati dan tanggung jawab. Namun, perjalanan rumah tangga tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan.
Kebohongan, perselingkuhan, kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol, pergaulan yang tidak sehat hingga hubungan dengan perempuan lain dapat menjadi persoalan serius yang mengikis kepercayaan dalam keluarga.
Bagi seorang istri, menghadapi keadaan seperti itu bukan perkara mudah. Terlebih ketika ia masih berusaha mempertahankan keutuhan rumah tangga, bukan semata-mata karena takut kehilangan suami, melainkan karena masih menghargai janji pernikahan, keluarga dan masa depan yang telah dibangun bersama.
Namun, kesabaran bukan berarti tidak memiliki batas.
Ada kalanya seorang istri memilih diam bukan karena tidak mengetahui apa yang terjadi. Ia mungkin mengetahui banyak hal, tetapi memilih menahan diri agar persoalan tidak semakin besar dan keluarga tidak semakin terluka.
Di tengah kesunyian itu, yang tersisa terkadang hanyalah doa.
Ketika doa menjadi tempat mencurahkan luka
Dalam ajaran Islam, orang yang mengalami kezaliman memiliki kedudukan khusus dalam perkara doa. Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak berbuat zalim, sementara berbagai hadis juga mengingatkan tentang doa orang yang dizalimi.
Karena itu, ungkapan bahwa “doa orang yang terzalimi menembus langit” sering digunakan untuk menggambarkan betapa seriusnya perkara kezaliman.
Namun, doa bukanlah sarana untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Doa dapat menjadi tempat seseorang menyerahkan rasa sakit, memohon perlindungan, meminta kekuatan dan berharap agar Allah memberikan jalan keluar yang terbaik.
Seorang istri yang terluka mungkin tidak lagi meminta suaminya mendapat keburukan. Bisa jadi, dalam doanya ia hanya berkata:
“Ya Allah, jika rumah tangga ini masih menjadi jalan kebaikan bagi kami, lembutkan hati kami dan berikan kesempatan untuk memperbaikinya. Tetapi jika di dalamnya terdapat kezaliman yang terus berulang, berikanlah aku kekuatan untuk mengambil jalan yang Engkau ridai.”
Doa seperti itu bukan tanda kelemahan. Justru dapat menjadi bentuk penyerahan diri kepada Tuhan ketika seseorang merasa tidak lagi mampu menyelesaikan semuanya seorang diri.
Bertahan bukan berarti harus menerima semua perlakuan
Mempertahankan rumah tangga merupakan pilihan yang tidak mudah. Tetapi mempertahankan keutuhan keluarga juga tidak seharusnya dimaknai sebagai kewajiban untuk terus menerima kebohongan, penghinaan atau perilaku yang menyakiti.
Rumah tangga membutuhkan dua orang yang sama-sama mau memperbaiki diri.
Jika terjadi persoalan, komunikasi yang jujur, kesediaan mengakui kesalahan, perubahan perilaku dan bila diperlukan pendampingan dari keluarga, tokoh agama atau tenaga profesional dapat menjadi jalan untuk mencari solusi.
Yang terpenting, jangan menjadikan kesabaran sebagai alasan untuk membiarkan tindakan yang terus merugikan diri sendiri maupun anggota keluarga lainnya.
Sebab seorang istri juga memiliki hati. Ia bisa lelah, kecewa dan terluka.
Dan terkadang, ketika semua kata sudah tidak mampu lagi diucapkan, hanya doa yang menjadi tempat terakhir untuk mengadu.
Pada akhirnya, setiap manusia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kesetiaan yang dijaga, air mata yang disembunyikan, maupun luka yang ditimbulkan kepada orang lain bukanlah sesuatu yang patut dianggap sepele.
Semoga setiap rumah tangga yang sedang menghadapi ujian diberikan jalan untuk memperbaiki keadaan. Semoga mereka yang pernah menyakiti diberi kesadaran untuk berubah, dan mereka yang sedang terluka diberi kekuatan, ketenangan serta jalan keluar terbaik.
Karena mempertahankan rumah tangga bukan hanya tentang tetap tinggal bersama, tetapi juga tentang membangun kembali kejujuran, kesetiaan, penghormatan dan rasa aman di dalam keluarga.
(Reina)
