ITime. Id.JAWA TENGAH – 15 Juli 2026 .Banyak daerah di Pulau Jawa memiliki nama yang berbeda pada masa lampau dibandingkan dengan yang dikenal saat ini. Nama-nama tersebut berasal dari kerajaan kuno, wilayah kadipaten, hingga karesidenan yang berkembang menjadi kabupaten dan kota modern.
Di wilayah Jawa Tengah, misalnya, Sala merupakan nama lama yang kini identik dengan Surakarta atau Solo. Nama Sala telah dikenal sejak berdirinya Keraton Surakarta pada abad ke-18 dan hingga kini masih sering digunakan oleh masyarakat.
Wilayah Kedu dahulu merupakan kawasan yang sangat luas di pedalaman Jawa Tengah. Kini, nama tersebut lebih dikenal sebagai wilayah yang mencakup Kabupaten Magelang, Kota Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworejo, dan Kebumen. Karena itu, penyebutan Kedu menjadi Magelang sebenarnya merujuk pada pusat wilayahnya, bukan perubahan nama secara langsung.
Begitu pula Bagelen, yang dahulu merupakan wilayah penting di selatan Jawa Tengah. Kini kawasan tersebut identik dengan Kabupaten Purworejo, meski secara historis Bagelen mencakup wilayah yang lebih luas.
Sementara itu, Lasem hingga sekarang masih tetap ada sebagai sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang. Lasem dikenal sebagai kota tua dengan jejak budaya Tionghoa yang sangat kuat, sehingga bukan berubah nama menjadi Rembang, melainkan menjadi bagian dari Kabupaten Rembang.
Beberapa nama lain yang tercantum dalam sejarah Pulau Jawa antara lain:
- Daha → Kediri
- Sala → Surakarta (Solo)
- Sukowati → Sragen
- Kedu → kawasan Magelang dan sekitarnya
- Bagelen → Purworejo
- Blambangan → Banyuwangi
- Panarukan → Situbondo
- Lasem → bagian dari Kabupaten Rembang
- Purabaya → Madiun
- Wengker → Ponorogo
- Jipang → Blora
- Ngrowo → Tulungagung
- Panjer → Kebumen
Sejarawan menjelaskan bahwa nama-nama tersebut merupakan bagian dari perjalanan panjang kerajaan-kerajaan Nusantara, mulai dari era Kediri, Majapahit, Demak, Mataram Islam, hingga masa pemerintahan kolonial Belanda. Sebagian nama tetap bertahan, sementara sebagian lainnya berubah mengikuti perkembangan administrasi pemerintahan.
Mempelajari asal-usul nama daerah tidak hanya menambah wawasan sejarah, tetapi juga menjadi pengingat bahwa setiap wilayah memiliki identitas dan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Hingga kini, banyak nama kuno tersebut masih digunakan masyarakat dalam berbagai tradisi, budaya, maupun penyebutan sehari-hari sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah leluhur.
(Reina)
