ITime.id .PEKALONGAN –28 Agustus 2026 Antusiasme masyarakat Pekalongan begitu tinggi saat pagelaran wayang kulit yang menghadirkan Niken Salindry. Ribuan penonton memadati lokasi pertunjukan hingga sejumlah area yang disediakan untuk tempat duduk tidak lagi mampu menampung seluruh warga.
Warga yang datang dari berbagai wilayah rela berdiri maupun duduk lesehan demi menikmati pertunjukan seni tradisional tersebut. Suasana semakin meriah ketika lantunan gamelan mulai terdengar dan Niken Salindry tampil menghibur masyarakat.
Menariknya, kondisi penonton yang membludak juga membuat Bupati Pekalongan Sukirman bersama jajaran Forkopimda ikut merasakan suasana berbeda. Karena tempat duduk dipenuhi masyarakat, rombongan pimpinan daerah tersebut akhirnya memilih duduk lesehan dan membaur bersama warga.
Momen tersebut menjadi salah satu pemandangan menarik dalam pagelaran malam itu. Tidak ada jarak antara pejabat dan masyarakat. Bupati Sukirman bersama Forkopimda terlihat menikmati jalannya pertunjukan dalam suasana santai dan penuh keakraban.
Kehadiran Niken Salindry menjadi salah satu daya tarik utama. Penampilan sinden muda tersebut mampu menghidupkan suasana dan membuat penonton semakin antusias mengikuti jalannya acara.
Dari anak-anak, generasi muda hingga masyarakat dewasa terlihat memenuhi area pertunjukan. Sebagian bahkan rela datang lebih awal untuk mendapatkan tempat terbaik agar dapat menyaksikan pertunjukan dari dekat.
Pagelaran wayang kulit tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa seni dan budaya tradisional masih memiliki daya tarik kuat di tengah masyarakat. Perpaduan antara wayang kulit, gamelan, sinden, serta kehadiran Niken Salindry membuat pertunjukan semakin diminati.
Bagi masyarakat Pekalongan, kegiatan seperti ini bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi sarana untuk menjaga dan mengenalkan budaya Jawa kepada generasi muda.
Momen Bupati Sukirman dan Forkopimda yang akhirnya ikut lesehan bersama warga pun menambah cerita tersendiri. Di tengah membludaknya penonton, semua larut menikmati pertunjukan dalam suasana kebersamaan.
Malam pagelaran wayang kulit di Pekalongan akhirnya bukan hanya menjadi panggung kesenian, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan antara pemerintah daerah dan masyarakat. Penonton membludak, tempat duduk terbatas, namun semangat warga untuk menikmati budaya tetap luar biasa.
(Reina)
