ITime.id .JAWA BARAT –1 September 2026 . Sosok Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tidak hanya dikenal melalui kebijakan dan gaya kepemimpinannya yang kerap dekat dengan budaya Sunda. Di tengah masyarakat, muncul pula berbagai perbincangan yang mengaitkan dirinya dengan sosok Prabu Siliwangi, raja besar yang sangat melekat dalam ingatan kolektif masyarakat Tanah Pasundan.
Tidak sedikit narasi di media sosial maupun perbincangan masyarakat yang menyebut Dedi Mulyadi memiliki karakter, aura kepemimpinan, hingga kecintaan terhadap alam dan budaya Sunda yang dianggap menyerupai sosok Prabu Siliwangi.
Dari sinilah kemudian muncul istilah bahwa Dedi Mulyadi disebut-sebut sebagai “titisan” atau jelmaan Prabu Siliwangi, bahkan dikaitkan dengan simbol macan putih yang selama berabad-abad menjadi bagian dari cerita rakyat dan mitologi masyarakat Sunda.
Namun, apakah anggapan tersebut merupakan fakta sejarah?
Prabu Siliwangi: Tokoh sejarah yang dibalut legenda
Dalam kajian sejarah, Prabu Siliwangi bukan sekadar tokoh dongeng. Penelitian dari Universitas Padjadjaran menyebut Prabu Siliwangi sebagai tokoh historis-legendaris. Sosok tersebut sangat kuat dalam ingatan masyarakat Sunda, meskipun identitas “Prabu Siliwangi” sendiri memiliki perdebatan di kalangan sejarawan.
Salah satu identifikasi yang banyak digunakan mengarah kepada Sri Baduga Maharaja, penguasa Kerajaan Sunda yang berpusat di Pakuan Pajajaran dan memerintah sekitar 1482–1521.
Menariknya, nama “Prabu Siliwangi” sendiri tidak tercantum dalam Prasasti Batutulis sebagai nama resmi raja tersebut. Prasasti itu justru menyebut nama Prabu Guru Dewataprana dan Sri Baduga Maharaja.
Artinya, sosok Prabu Siliwangi memiliki dua sisi yang berjalan bersamaan: ada fondasi sejarahnya, tetapi kisah yang berkembang kemudian juga dipenuhi unsur legenda dan mitologi.
Dari mana muncul kisah macan putih?
Macan atau harimau memiliki posisi simbolis yang sangat kuat dalam budaya Sunda. Sosok maung kerap dikaitkan dengan keberanian, kekuatan, kewibawaan dan kepemimpinan.
Dalam berbagai cerita rakyat, Prabu Siliwangi bahkan dikisahkan memiliki hubungan dengan harimau putih. Ada pula legenda yang menceritakan bahwa Prabu Siliwangi dan para pengikutnya menghilang atau nga-hyang dan kemudian dikaitkan dengan keberadaan harimau di kawasan hutan Tanah Sunda.
Namun, hubungan tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai fakta sejarah yang telah terbukti secara ilmiah. Kajian mengenai Prabu Siliwangi menunjukkan bahwa unsur harimau dan kisah nga-hyang merupakan bagian penting dari lapisan legenda yang berkembang di masyarakat Sunda.
Lalu bagaimana dengan Dedi Mulyadi?
Dedi Mulyadi memang dikenal sebagai tokoh yang sering menampilkan identitas budaya Sunda dalam kehidupan publiknya. Perhatiannya terhadap lingkungan, masyarakat adat, seni tradisi dan budaya lokal kemudian membuat sebagian masyarakat melihat adanya kemiripan simbolik dengan gambaran pemimpin Sunda masa lampau.
Dari kemiripan tersebut, berkembanglah narasi spiritual mengenai “titisan Prabu Siliwangi”.
Tetapi sampai saat ini, tidak ada bukti sejarah, ilmiah atau dokumen yang dapat membuktikan bahwa Dedi Mulyadi merupakan titisan atau jelmaan Prabu Siliwangi maupun macan putih.
Karena itu, klaim tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai kepercayaan, tafsir budaya, mitos atau narasi spiritual masyarakat, bukan sebagai fakta sejarah.
Mengapa narasi tersebut begitu kuat?
Fenomena seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang aneh dalam kebudayaan Nusantara. Sosok pemimpin yang dianggap memiliki karakter tertentu sering kali dikaitkan dengan tokoh besar dari masa lalu.
Prabu Siliwangi sendiri telah menjadi simbol identitas dan kebanggaan masyarakat Sunda selama berabad-abad. Sosoknya tidak hanya hadir dalam buku sejarah, tetapi juga dalam cerita rakyat, kesenian, simbol militer, hingga kehidupan sosial masyarakat Jawa Barat.
Karena itu, ketika muncul seorang pemimpin yang dianggap dekat dengan budaya Sunda, narasi mengenai “penerus”, “keturunan”, atau “titisan” Prabu Siliwangi mudah berkembang.
Fakta atau mitos?
Jika dilihat dari sudut pandang sejarah, Prabu Siliwangi merupakan sosok yang memiliki dasar historis, meskipun identitas dan kisah tentangnya kemudian bercampur dengan legenda.
Sementara itu, anggapan bahwa Dedi Mulyadi adalah titisan Prabu Siliwangi atau jelmaan macan putih belum memiliki bukti yang dapat diverifikasi secara ilmiah.
Dengan demikian, narasi tersebut lebih tepat dipahami sebagai bagian dari mitologi dan budaya populer masyarakat Sunda.
Pada akhirnya, apakah seseorang percaya atau tidak terhadap kisah tersebut merupakan ranah keyakinan masing-masing. Yang penting, antara sejarah dan mitos perlu tetap dibedakan agar kekayaan budaya Sunda dapat terus dihormati tanpa mengubah legenda menjadi fakta sejarah.
Prabu Siliwangi boleh menjadi simbol keberanian dan kewibawaan bagi masyarakat Sunda. Namun, mengenai siapa yang disebut sebagai “titisannya”, sejarah belum memberikan bukti yang dapat memastikan hal tersebut.
(Reina)
