PATI, JAWA TENGAH – 4 September 2026 .Pemandangan memprihatinkan terlihat di kawasan Sungai Juwana, Kabupaten Pati. Kemarau panjang membuat debit air terus menyusut hingga kawasan Bendung Karet Jakenan mengalami kekeringan. Dasar sungai yang biasanya dialiri air kini tampak terbuka dan dipenuhi ikan yang terjebak.
Ribuan ikan sapu-sapu ditemukan terdampar di sejumlah bagian sungai. Sebagian masih berusaha bertahan di genangan air yang tersisa, sementara lainnya ditemukan mati akibat kondisi sungai yang semakin kering dan panas.
Kondisi tersebut membuat warga sekitar turun ke sungai untuk memanfaatkan ikan yang masih dapat ditangkap. Dengan menggunakan peralatan sederhana, warga mengumpulkan ikan yang terjebak di kubangan-kubangan kecil.
Bagi sebagian warga, ikan hasil tangkapan menjadi tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara ikan yang tidak dimanfaatkan untuk konsumsi dikumpulkan dan digunakan sebagai bahan pakan ternak.
Namun, di balik aktivitas warga memanen ikan, kekeringan Sungai Juwana membawa persoalan yang jauh lebih besar. Berkurangnya ketersediaan air mulai mengancam sektor pertanian yang sangat bergantung pada jaringan irigasi.
Ribuan hektare lahan persawahan di wilayah yang mengandalkan pasokan air dari sistem Sungai Juwana menghadapi ancaman kekurangan air. Para petani mulai dihantui kekhawatiran tanaman padi tidak mampu bertahan apabila kondisi kemarau terus berlangsung.
Tanaman yang seharusnya memasuki masa pertumbuhan membutuhkan pasokan air secara berkelanjutan. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, produktivitas tanaman dapat menurun dan dalam kondisi yang lebih parah berpotensi menyebabkan gagal panen.
Ekosistem Sungai Ikut Terdampak
Keringnya Sungai Juwana bukan hanya persoalan bagi sektor pertanian. Kondisi tersebut juga memberikan tekanan terhadap ekosistem perairan.
Hilangnya habitat air membuat ikan dan organisme sungai lainnya kehilangan ruang untuk bertahan hidup. Ikan yang tidak mampu berpindah ke wilayah yang masih memiliki air akhirnya terjebak dan mati.
Ikan sapu-sapu yang selama ini dikenal mudah beradaptasi pun tidak luput dari dampak kekeringan ekstrem. Ketika genangan air semakin sedikit dan suhu meningkat, kemampuan ikan untuk bertahan hidup semakin terbatas.
Fenomena ini menjadi gambaran bagaimana kemarau panjang dapat memberikan dampak berantai. Berawal dari menurunnya debit air, kemudian memengaruhi ekosistem sungai, ketersediaan air irigasi, hingga kehidupan petani.
Petani Menunggu Hujan
Bagi petani, hujan kini menjadi harapan utama. Mereka membutuhkan tambahan pasokan air agar tanaman di lahan persawahan tetap dapat tumbuh dan tidak mengalami kerusakan akibat kekeringan.
Jika kemarau berlangsung lebih panjang, tekanan terhadap sektor pertanian berpotensi semakin besar. Terlebih, kebutuhan air tidak hanya berasal dari lahan pertanian, tetapi juga masyarakat dan berbagai aktivitas lainnya.
Karena itu, kondisi Sungai Juwana dan Bendung Karet Jakenan menjadi perhatian penting di tengah berlangsungnya musim kemarau.
Pemerintah bersama masyarakat diharapkan dapat memperkuat langkah antisipasi terhadap dampak kekeringan, termasuk pengelolaan air secara efisien, pemantauan kondisi lahan pertanian, serta penanganan kebutuhan air bagi masyarakat yang terdampak.
Hujan menjadi satu-satunya yang paling dinantikan untuk mengembalikan kehidupan Sungai Juwana. Sebab jika air tak kunjung datang, bukan hanya ikan yang kehilangan habitat, tetapi ribuan petani juga berhadapan dengan ancaman kehilangan hasil panen.
Sungai yang biasanya menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi hamparan kering. Ribuan ikan menjadi korban kekeringan, sementara para petani Jakenan dan sekitarnya masih menunggu datangnya hujan untuk menyelamatkan sawah mereka.
(Reina)
