ITIME.id .KALTENG — 15 Oktober 2026 .Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan menjadi perhatian serius. Selain mengancam kelestarian lingkungan dan habitat satwa liar, kebakaran tersebut juga berdampak terhadap kesehatan masyarakat akibat kabut asap yang menyelimuti sejumlah kawasan.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, ribuan titik panas terpantau di Kalimantan Tengah. Sementara itu, kebakaran juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, termasuk kawasan Banjarbaru, Berau, Kotawaringin Timur, dan Palangka Raya.
Dampak karhutla tidak hanya terlihat dari kerusakan lahan, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Gangguan kualitas udara akibat asap meningkatkan risiko penyakit pernapasan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Di Kalimantan Tengah, disebutkan lebih dari 66.000 warga terdampak gangguan pernapasan. Kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa penanganan karhutla tidak dapat ditunda dan membutuhkan koordinasi yang kuat antara pemerintah, petugas lapangan, serta masyarakat.
Pemadaman Terkendala Kabut Asap
Berbagai upaya penanganan terus dilakukan melalui pemadaman darat dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu meningkatkan peluang terjadinya hujan.
Namun, kabut asap yang tebal dan jarak pandang yang terbatas sempat menghambat upaya pemadaman melalui udara, termasuk penggunaan helikopter untuk water bombing. Situasi tersebut membuat pemadaman darat menjadi salah satu langkah penting dalam mengendalikan penyebaran api.
Di sisi lain, laporan Kementerian Kehutanan menyebutkan bahwa titik panas di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan, mulai menunjukkan penurunan. Meski demikian, perkembangan tersebut tetap perlu dipantau agar kebakaran tidak kembali meluas.
Warga dan Satwa Liar Sama-Sama Menjadi Korban
Keprihatinan terhadap karhutla tidak hanya berkaitan dengan keselamatan manusia, tetapi juga nasib satwa liar yang kehilangan habitat dan menghadapi ancaman akibat kebakaran.
Wulan menyampaikan bahwa dampak karhutla harus menjadi perhatian bersama, terutama bagi masyarakat yang terpapar asap dan makhluk hidup yang tidak mampu menyampaikan penderitaannya.
“Kekhawatiran kita terhadap karhutla ini tidak hanya tertuju kepada masyarakat yang menjadi korban sesak napas dan ISPA. Namun, juga kepada makhluk hidup lainnya, yang bahkan mereka tidak bisa berteriak meminta tolong,” ujar Wulan.
Kualitas udara yang memburuk dan jarak pandang yang menurun menjadi persoalan serius. Dalam informasi yang disampaikan, konsentrasi partikulat di Banjarbaru disebut sempat mencapai 389,4 µg/m³, sedangkan di Kotawaringin Timur mencapai 318 µg/m³. Jarak pandang di sejumlah wilayah bahkan dilaporkan menurun hingga sekitar 100 meter.
Angka tersebut perlu dibaca berdasarkan jenis parameter, waktu pengukuran, dan sumber pemantauan yang digunakan. Namun, kondisi asap tebal tetap menjadi alasan penting bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti imbauan resmi terkait kualitas udara.
Penegakan Hukum Harus Menyasar Pelaku Secara Adil
Praktik pembakaran lahan secara sengaja untuk membuka atau membersihkan kawasan perlu mendapat perhatian serius. Jika api menyebar ke wilayah lain, dampaknya tidak lagi menjadi persoalan pribadi, melainkan dapat mengancam kesehatan masyarakat, mengganggu kegiatan pendidikan, merusak ekosistem, dan menimbulkan kerugian ekonomi.
Karena itu, penanganan karhutla perlu disertai penyelidikan yang profesional untuk mengungkap penyebab kebakaran serta pihak-pihak yang bertanggung jawab.
Penegakan hukum harus dilakukan secara adil dan transparan berdasarkan bukti. Proses hukum tidak semestinya berhenti pada pelaku di lapangan apabila hasil penyelidikan menunjukkan adanya keterlibatan pihak lain, termasuk perusahaan atau pemilik modal. Setiap pihak yang terbukti melanggar hukum harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai ketentuan yang berlaku.
“Keuntungan pribadi tidak boleh dibayar dengan kerugian ekologis dan kesehatan masyarakat,” menjadi pesan penting dalam upaya mendorong perlindungan lingkungan dan keselamatan warga.
Kolaborasi Menjadi Kunci Penanganan Karhutla
Wulan berharap bencana karhutla segera berakhir dan seluruh pihak dapat memperkuat kerja sama untuk mengatasi kebakaran serta dampaknya.
“Kami mendoakan agar bencana ini segera usai dan mendorong tindakan yang cepat, efektif, dan kolaboratif dari semua pihak,” imbuhnya.
Karhutla merupakan persoalan yang membutuhkan penanganan menyeluruh, mulai dari pencegahan, pemadaman, perlindungan kesehatan masyarakat, pemulihan lingkungan, hingga penegakan hukum.
Keselamatan warga, kelestarian hutan, dan perlindungan satwa liar harus menjadi prioritas bersama. Upaya tersebut penting agar dampak karhutla tidak terus berulang dan masyarakat tidak kembali menjadi korban akibat kerusakan lingkungan.
(Redaksi iTime.id)
