Itime.id. BARITO SELATAN – Warga Desa Ngurit, Kecamatan Gunung Bintang Awai, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, menggelar ritual adat Kaharingan khas Suku Dayak Ma’anyan pada Sabtu (11/7/2026). Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan Sang Pencipta, sekaligus memperkuat persaudaraan antarwarga.
Ritual yang dipusatkan di wilayah RT 02 Desa Ngurit tersebut dipimpin oleh tokoh adat, Pak Repto, dan dihadiri masyarakat dari berbagai kalangan. Hadir pula tokoh masyarakat Pak Sowito, Pak Juanto R., serta Humas PT Perwata Rimba, Pak Terus Rariu, yang memberikan dukungan terhadap pelestarian budaya lokal.
Dalam prosesi ritual, warga menyiapkan berbagai persembahan berupa hasil bumi seperti padi, ketan, buah-buahan, air bersih, serta hewan kurban sesuai ketentuan adat. Persembahan tersebut menjadi simbol rasa syukur atas rezeki yang diterima sekaligus permohonan perlindungan agar masyarakat diberikan keselamatan dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan saat mengelola lahan pertanian.
Pak Sowito menjelaskan, tradisi ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dayak Ma’anyan sejak zaman leluhur dan terus dilaksanakan setiap tahun.
“Biasanya ritual dilakukan sebelum masa berladang dimulai atau setelah seluruh panen padi selesai. Tujuannya memohon perlindungan agar masyarakat tidak mengalami gangguan ketika bekerja di ladang maupun menjalani aktivitas sehari-hari,” ujarnya.
Menurutnya, ritual adat bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi pengingat agar masyarakat selalu menjaga hubungan harmonis dengan alam yang menjadi sumber kehidupan.
Sementara itu, Pak Repto mengatakan ritual Kaharingan memiliki makna spiritual sekaligus sosial. Selain menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur, kegiatan tersebut juga mempererat kebersamaan warga.
“Kita berkumpul, berbagi persembahan, dan mengingat kembali nilai-nilai luhur warisan leluhur agar tidak hilang ditelan zaman. Semoga tanah kami tetap subur, panen melimpah, dan seluruh warga senantiasa diberikan kesehatan,” katanya.
Lebih dari sekadar upacara adat, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan sebagai forum musyawarah masyarakat. Dalam kesempatan itu, warga membahas rencana pengelolaan lahan pertanian, pembagian tugas berladang, hingga penyelesaian berbagai persoalan sosial di desa.
Sebagai desa agraris, sebagian besar masyarakat Desa Ngurit menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian dan perladangan tradisional. Karena itu, pelaksanaan ritual adat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari siklus kehidupan masyarakat.
Perwakilan PT Perwata Rimba, Pak Terus Rariu, menyampaikan apresiasi atas konsistensi masyarakat dalam menjaga tradisi leluhur.
“Kami sangat mendukung pelestarian budaya seperti ini. Harmoni antara manusia, alam, dan leluhur merupakan pondasi penting dalam menjaga kelestarian lingkungan dan memperkuat nilai-nilai kebersamaan,” ungkapnya.
Kepercayaan Kaharingan yang dianut sebagian masyarakat Dayak mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam semesta, dan roh leluhur. Nilai tersebut menjadi dasar berbagai ritual adat yang masih dilestarikan hingga saat ini sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Dayak di Kalimantan.
Ritual kemudian ditutup dengan doa bersama dan makan bersama seluruh peserta sebagai simbol rasa syukur serta kebersamaan. Warga berharap generasi muda terus menjaga dan melestarikan tradisi Kaharingan agar warisan budaya leluhur tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
narasumber ” harmito.
penulis ” usupriyadi.tim.
