ITime.id .Semarang – 25 Juli 2026 Fenomena El Nino yang mulai menguat diperkirakan membawa dampak terhadap sejumlah wilayah di Jawa Tengah. Memasuki akhir Juli 2026, musim kemarau mulai meluas dan sedikitnya delapan daerah di provinsi ini diperkirakan menghadapi peningkatan risiko kekeringan, berkurangnya pasokan air bersih, hingga ancaman gagal panen.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa El Nino menyebabkan curah hujan berada di bawah kondisi normal sehingga suasana kering menjadi lebih dominan. Puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September 2026 dan berpotensi lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Sejumlah wilayah di Jawa Tengah yang rawan terdampak kemarau antara lain kawasan Pantura, Solo Raya, sebagian Banyumas, Grobogan, Blora, Rembang, Pati, dan Wonogiri. Daerah-daerah tersebut berpotensi mengalami penurunan ketersediaan air, terganggunya irigasi pertanian, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan apabila kemarau berlangsung lebih panjang.
BMKG mengimbau pemerintah daerah untuk mengantisipasi dampak kemarau dengan memastikan ketersediaan air bersih, memperkuat sistem irigasi, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran lahan. Masyarakat juga diminta menggunakan air secara bijak dan tidak melakukan pembakaran lahan yang dapat memicu kebakaran saat cuaca panas dan kering.
Selain sektor pertanian, kemarau yang dipengaruhi El Nino juga dapat berdampak pada kesehatan masyarakat. Suhu udara yang lebih tinggi dan kelembapan yang rendah berpotensi meningkatkan risiko dehidrasi, gangguan pernapasan, serta penurunan kualitas lingkungan apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa hujan masih dapat terjadi secara lokal di beberapa wilayah akibat dinamika atmosfer. Oleh karena itu, masyarakat diminta terus memantau informasi cuaca resmi agar dapat menyesuaikan aktivitas sehari-hari dan mengantisipasi perubahan kondisi cuaca yang terjadi secara cepat.
(Reina)
