ITime id .JAKARTA – 5 Agustus 2026 .Di balik cita rasanya yang unik, tempoyak durian menyimpan sejarah panjang sebagai salah satu warisan kuliner khas Nusantara. Makanan berbahan dasar daging buah durian yang difermentasi ini telah menjadi bagian dari budaya masyarakat di Pulau Sumatra, terutama di Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, dan sebagian Kalimantan.
Tempoyak dipercaya telah ada sejak ratusan tahun lalu. Pada masa lalu, masyarakat memanfaatkan musim panen durian yang melimpah dengan mengawetkan daging buah melalui proses fermentasi alami. Cara ini dilakukan agar durian dapat dinikmati lebih lama, bahkan ketika musim panen telah berakhir.
Proses pembuatannya cukup sederhana. Daging durian matang dipisahkan dari bijinya, kemudian diberi sedikit garam dan disimpan dalam wadah tertutup selama beberapa hari hingga mengalami fermentasi. Hasilnya adalah tempoyak dengan cita rasa asam yang khas, aroma kuat, dan tekstur lembut.
Dalam perkembangannya, tempoyak tidak hanya disantap langsung, tetapi juga diolah menjadi berbagai hidangan, seperti gulai tempoyak ikan patin, sambal tempoyak, hingga aneka masakan berbumbu rempah. Perpaduan rasa asam dari hasil fermentasi dengan gurihnya rempah menjadikan tempoyak memiliki karakter rasa yang unik dan sulit ditemukan pada kuliner lainnya.
Kini, tempoyak semakin dikenal luas dan banyak diburu para pencinta kuliner tradisional. Berbagai rumah makan khas Sumatra menjadikan tempoyak sebagai menu andalan, bahkan produk tempoyak kemasan mulai dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia.
Selain memiliki nilai budaya yang tinggi, proses fermentasi pada tempoyak juga menarik perhatian karena menghasilkan cita rasa khas. Namun, seperti makanan fermentasi lainnya, tempoyak tetap sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah yang wajar sebagai bagian dari pola makan seimbang.
Pelestarian tempoyak menjadi bukti bahwa kuliner tradisional Indonesia mampu bertahan di tengah perkembangan zaman. Warisan leluhur ini tidak hanya menawarkan kelezatan, tetapi juga mencerminkan kearifan masyarakat dalam mengolah hasil alam menjadi makanan yang bernilai ekonomi dan budaya.
Semoga kekayaan kuliner seperti tempoyak durian terus dilestarikan dan semakin dikenal, baik oleh masyarakat Indonesia maupun wisatawan mancanegara.
(Reina)
