ITIIME.id .Surakarta —18 Oktober 2026 . Inovasi teknologi di bidang keselamatan kesehatan kembali lahir dari kalangan mahasiswa. Lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengembangkan Needle Crusher Integrated System (NeCIS), sebuah perangkat yang dirancang untuk membantu meningkatkan keamanan dalam pengelolaan limbah jarum suntik bekas.
Inovasi tersebut berhasil mengantarkan tim NeCIS lolos ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNas) 2026. Ajang ilmiah tingkat nasional itu dijadwalkan berlangsung di Universitas Diponegoro pada 2–7 November 2026.
Ketua Tim NeCIS, Daffa Satria Nugraha, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro UMS angkatan 2024, menjelaskan bahwa ide pengembangan alat tersebut berawal dari pengamatan terhadap keterbatasan perangkat penghancur jarum suntik yang tersedia di pasaran.
Menurut Daffa, sejumlah alat yang ada dinilai masih memiliki keterbatasan karena hanya menghancurkan ujung atau sebagian jarum, serta belum dilengkapi fungsi disinfeksi.
Tim kemudian berupaya menghadirkan perangkat yang lebih ringkas dengan mengintegrasikan sejumlah fungsi teknologi dalam satu sistem.
Jarum suntik bekas yang tidak dikelola secara tepat berpotensi menimbulkan cedera akibat tusukan benda tajam serta meningkatkan risiko paparan terhadap bahan biologis yang berbahaya. Oleh karena itu, inovasi dalam pengelolaan limbah medis menjadi salah satu upaya penting untuk mendukung keselamatan tenaga kesehatan dan petugas pengelola limbah.
Integrasikan Penghancuran, Pemisahan Material, dan Pemantauan Digital
NeCIS dikembangkan melalui integrasi tiga pendekatan teknologi. Pertama, rotary shredder yang digunakan untuk membantu menghancurkan jarum. Kedua, magnetic segregation untuk mendukung pemisahan material berdasarkan sifat magnetiknya.
Ketiga, teknologi Internet of Things (IoT) yang memungkinkan proses pemantauan dilakukan melalui situs web secara real-time.
Kombinasi tersebut dirancang untuk menghadirkan sistem pengelolaan jarum suntik bekas yang tidak hanya berfokus pada penghancuran, tetapi juga mencakup pemisahan material dan pemantauan digital.
Pengembangan perangkat ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif teknologi pendukung keselamatan dalam pengelolaan limbah medis, khususnya limbah benda tajam yang membutuhkan penanganan secara hati-hati.
Meski demikian, efektivitas penghancuran jarum, proses pemisahan material, serta fungsi disinfeksi perlu dibuktikan melalui pengujian teknis dan evaluasi sesuai standar keselamatan serta ketentuan pengelolaan limbah medis yang berlaku.
Kolaborasi Tiga Program Studi
Pengembangan NeCIS melibatkan lima mahasiswa dari tiga program studi di UMS. Mereka terdiri atas Daffa Satria Nugraha dari Program Studi Teknik Elektro sebagai ketua tim, Mahmudah Mufidatul Hasanah, Hengky Boyyanza, dan Safaila Mefia Zahra dari Teknik Industri, serta Evandra Ardhy Pratama dari Teknik Mesin.
Kolaborasi lintas disiplin tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan inovasi yang memadukan aspek kelistrikan, perancangan sistem industri, dan rekayasa mekanik.
Keberhasilan tim NeCIS melaju ke PIMNas 2026 menjadi kesempatan untuk memperkenalkan hasil pengembangan mereka di tingkat nasional sekaligus memperoleh masukan bagi penyempurnaan teknologi.
Inovasi ini juga menunjukkan bahwa kreativitas mahasiswa dapat diarahkan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Dengan pengembangan dan pengujian yang berkelanjutan, teknologi seperti NeCIS diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan keselamatan kerja dan pengelolaan limbah medis yang lebih baik.
iTiime.id — Inovasi mahasiswa, kontribusi nyata bagi keselamatan dan kesehatan masyarakat.
(Reina)
