ITime. Id.BANGKA – 2Agustus 2026 .Semangat pengabdian kepada bangsa menjadi pilihan hidup Faturhadi, putra daerah asal Bangka yang lahir dari keluarga sederhana. Anak seorang petani ini berhasil membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita menjadi perwira TNI Angkatan Laut.
Perjalanan Faturhadi menuju Akademi Angkatan Laut (AAL) tidaklah mudah. Dengan tekad kuat, disiplin, serta dukungan keluarga, ia mampu melewati berbagai tahapan seleksi yang dikenal sangat ketat hingga akhirnya dinyatakan lulus sebagai taruna AAL.
Di tengah prestasi yang diraih, Faturhadi juga sempat memperoleh kesempatan mengikuti program beasiswa ke Australia. Kesempatan tersebut tentu menjadi impian banyak anak muda karena membuka peluang menempuh pendidikan bertaraf internasional.
Namun, di luar dugaan, Faturhadi memilih menolak kesempatan tersebut. Baginya, panggilan untuk mengabdi kepada Tanah Air melalui TNI Angkatan Laut memiliki nilai yang lebih besar dibanding melanjutkan studi ke luar negeri.
“Saya ingin memberikan kemampuan terbaik saya untuk Indonesia. Menjadi prajurit TNI AL adalah cita-cita sejak kecil dan saya ingin mengabdikan diri untuk bangsa,” ungkapnya dalam kisah yang menginspirasi.
Keputusan itu mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Sikap Faturhadi dinilai mencerminkan jiwa nasionalisme, dedikasi, dan semangat pengabdian yang patut diteladani oleh generasi muda.
Lahir dari keluarga petani di Bangka, Faturhadi memahami betul arti perjuangan. Orang tuanya selalu mengajarkan pentingnya kerja keras, kejujuran, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan.
Kini, keberhasilannya menjadi taruna AAL sekaligus pilihannya untuk tetap mengabdi di Indonesia menjadi kebanggaan bagi keluarga maupun masyarakat Bangka. Kisahnya menjadi bukti bahwa latar belakang ekonomi tidak menentukan masa depan seseorang apabila disertai tekad, kerja keras, dan semangat pantang menyerah.
Cerita Faturhadi diharapkan dapat memotivasi generasi muda Indonesia untuk terus mengejar cita-cita, berani mengambil keputusan berdasarkan panggilan hati, serta menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi. Pengabdian kepada negara, menurutnya, merupakan kehormatan yang tidak dapat diukur dengan materi maupun kesempatan lainnya.
(Reina)
