ITime id.WONOSOBO –4 Agutus 2026 . Fenomena bediding kembali menyelimuti kawasan Gunung Prau, Jawa Tengah. Memasuki puncak musim kemarau, suhu udara di kawasan pegunungan dilaporkan turun hingga minus 6 derajat Celsius, memicu terbentuknya embun es (frost) yang menutupi area perkemahan dan vegetasi. Kondisi ini menjadi daya tarik bagi para pendaki, namun di sisi lain juga menuntut kewaspadaan tinggi karena berisiko memicu hipotermia.
Turunnya suhu secara drastis merupakan fenomena yang lazim terjadi pada musim kemarau, terutama antara Juli hingga Agustus. Langit yang cerah tanpa tutupan awan membuat panas bumi lebih cepat terlepas ke atmosfer pada malam hari, sehingga suhu udara turun sangat rendah.
Akibatnya, embun yang menempel di rerumputan, dedaunan, tenda, hingga permukaan tanah membeku menjadi kristal es. Dalam kondisi tertentu, air di dalam botol, permukaan jaket, bahkan rambut para pendaki juga dapat membeku saat suhu mencapai titik terendah menjelang pagi.
Meski menghadirkan panorama yang memukau, cuaca ekstrem tersebut memerlukan persiapan yang matang. Pendaki disarankan menggunakan pakaian berlapis (layering system), seperti base layer, fleece atau thermal, serta jaket tahan angin atau down jacket. Sleeping bag yang sesuai untuk suhu rendah, sarung tangan, penutup kepala, dan kaus kaki tebal juga menjadi perlengkapan penting.
Selain itu, pendaki diimbau untuk selalu memantau informasi prakiraan cuaca, menjaga kondisi fisik, mengonsumsi makanan dan minuman hangat, serta tidak memaksakan diri apabila cuaca memburuk.
Fenomena embun es di Gunung Prau dan kawasan Dataran Tinggi Dieng setiap musim kemarau memang selalu menjadi magnet wisata alam. Namun, keindahan tersebut harus diimbangi dengan kesiapan dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan agar aktivitas pendakian tetap aman.
(Reina)
