ITime.id .JAWA TIMUR –31 Agustus 2026 . Jawa Timur menyimpan kekayaan budaya yang seolah tidak pernah habis untuk dieksplorasi. Selain memiliki destinasi wisata alam dan kuliner yang beragam, sejumlah daerah di provinsi ini rutin menggelar festival tahunan yang mampu menarik perhatian wisatawan dari berbagai penjuru Indonesia.
Festival-festival tersebut bukan sekadar hiburan. Di balik kemeriahan acara, terdapat tradisi, sejarah, kesenian dan kearifan lokal yang terus dijaga oleh masyarakat.
Bagi wisatawan yang ingin menikmati Jawa Timur dengan suasana berbeda, berikut lima festival tahunan yang layak masuk dalam daftar perjalanan.
1. Jember Fashion Carnaval, Parade Kostum yang Mendunia
Nama Jember Fashion Carnaval atau JFC sudah tidak asing bagi pecinta festival. Digelar di Kabupaten Jember, acara ini menghadirkan parade kostum dengan desain yang unik, penuh warna dan sarat kreativitas.
Peserta berjalan dalam sebuah parade besar dengan mengenakan kostum yang dirancang sesuai tema festival. Tak hanya menjadi hiburan, JFC juga menjadi wadah bagi pelaku seni dan industri kreatif untuk menunjukkan karya mereka.
Kemegahan parade inilah yang membuat Jember Fashion Carnaval menjadi salah satu festival yang paling dinantikan setiap tahun.
2. Gandrung Sewu, Ribuan Penari Memukau Banyuwangi
Banyuwangi memiliki Festival Gandrung Sewu yang menjadi salah satu pertunjukan budaya paling ikonik di daerah tersebut.
Sesuai namanya, pertunjukan ini melibatkan ribuan penari Gandrung yang tampil secara kolosal. Dengan latar kawasan pesisir dan kemegahan pertunjukan, festival ini menghadirkan pengalaman visual yang berbeda bagi wisatawan.
Gandrung Sewu sekaligus menjadi simbol pelestarian kesenian tradisional Banyuwangi agar tetap hidup dan dikenal generasi muda.
3. Yadnya Kasada, Tradisi Sakral Masyarakat Tengger di Bromo
Berbeda dengan festival yang identik dengan parade dan hiburan, Yadnya Kasada memiliki nuansa adat dan spiritual yang kuat.
Tradisi tahunan masyarakat Tengger ini berlangsung di kawasan Gunung Bromo. Masyarakat membawa berbagai sesaji sebagai bagian dari rangkaian upacara adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Keunikan tradisi tersebut membuat kawasan Bromo tidak hanya menarik karena panorama alamnya, tetapi juga karena kehidupan budaya masyarakat Tengger yang masih terjaga.
4. Festival Rujak Uleg, Kuliner Khas Surabaya Jadi Perayaan
Surabaya memiliki cara tersendiri untuk memperkenalkan kuliner khasnya melalui Festival Rujak Uleg.
Rujak uleg yang selama ini dikenal sebagai makanan khas Surabaya diangkat menjadi bagian dari perayaan budaya. Masyarakat dan peserta festival dapat menyaksikan kemeriahan pembuatan rujak dengan suasana yang penuh kreativitas.
Kegiatan tersebut menjadi perpaduan antara kuliner, seni dan hiburan yang memperkuat identitas Kota Surabaya.
5. Festival Reyog Ponorogo, Warisan Seni yang Terus Hidup
Ponorogo identik dengan kesenian Reyog. Tidak mengherankan jika festival yang mengangkat kesenian tersebut menjadi salah satu agenda budaya yang ditunggu masyarakat.
Penampilan dadak merak berukuran besar, iringan musik tradisional serta aksi para seniman menjadi daya tarik utama. Festival Reyog juga menjadi kesempatan bagi generasi muda untuk ikut mengenal dan meneruskan warisan budaya daerah.
Bukan Sekadar Festival, tetapi Identitas Daerah
Lima festival tersebut memperlihatkan bagaimana budaya lokal dapat dikemas menjadi daya tarik wisata tanpa meninggalkan akar tradisinya.
Mulai dari kemegahan Jember Fashion Carnaval, ribuan penari Gandrung Sewu, tradisi masyarakat Tengger di Bromo, kuliner Rujak Uleg hingga kesenian Reyog Ponorogo, semuanya menawarkan pengalaman berbeda.
Tak heran jika festival tahunan di Jawa Timur terus menjadi magnet wisata. Selain memberikan hiburan, kehadirannya juga membantu memperkenalkan budaya daerah kepada wisatawan sekaligus menjaga tradisi agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Jadwal dan lokasi pelaksanaan festival dapat berubah setiap tahun. Wisatawan sebaiknya memeriksa pengumuman resmi pemerintah daerah atau penyelenggara sebelum berkunjung.
(Reina)
