ITime.id .JAKARTA – 6 September 2026:.Momen menarik terjadi ketika Wakil Presiden Gibran Rakabuming menerima kunjungan mahasiswa berprestasi Universitas Brawijaya (UB) di Istana Wakil Presiden, Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, Gibran melihat langsung sejumlah inovasi kesehatan karya mahasiswa, salah satunya rompi pintar anti-tantrum bernama ADAPT-V.
Rompi tersebut dikembangkan mahasiswa UB dengan memadukan sensor detak jantung dan gerakan, teknologi machine learning, serta Internet of Things (IoT). Teknologi itu dirancang untuk membantu mengenali kondisi tantrum pada anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD).
Saat sistem mendeteksi tanda-tanda tantrum, rompi ADAPT-V dirancang dapat mengembang dan memberikan tekanan lembut pada tubuh sehingga memberikan sensasi seperti pelukan. Setelah kondisi anak kembali stabil, rompi akan kembali ke bentuk semula.
Dalam momen tersebut, Gibran tampak menyimak penjelasan mahasiswa mengenai cara kerja dan tujuan penggunaan rompi tersebut. Inovasi itu mendapat perhatian karena menawarkan pendekatan berbasis teknologi untuk membantu menangani kondisi tertentu pada anak dengan autisme.
Gibran pun mendorong agar karya mahasiswa tidak berhenti hanya sebagai penelitian atau publikasi ilmiah. Inovasi tersebut diharapkan terus dikembangkan hingga benar-benar dapat digunakan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Selain ADAPT-V, mahasiswa UB juga memperkenalkan dua inovasi kesehatan lainnya, yakni Transaid dan Vitalsense. Transaid memanfaatkan kecerdasan buatan dan pencitraan tiga dimensi untuk membantu mendeteksi celah antara bahan tambalan dan gigi asli. Sementara Vitalsense dikembangkan sebagai perangkat pemantauan kesehatan secara non-invasif dengan memanfaatkan IoT dan machine learning.
Pertemuan tersebut menjadi salah satu bentuk apresiasi terhadap kreativitas mahasiswa sekaligus dorongan agar generasi muda terus menciptakan teknologi yang mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat.
Pesan Gibran kepada mahasiswa juga cukup jelas: kemampuan dan minat harus terus dikembangkan, baik dalam bidang sains dan teknologi maupun sosial humaniora. Mahasiswa didorong untuk tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga memahami persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
Dari momen pertemuan tersebut, rompi ADAPT-V menjadi salah satu contoh bahwa karya mahasiswa Indonesia dapat berkembang dari lingkungan kampus menjadi sebuah inovasi yang berpotensi memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
(Reina)
