ITime.id .TULUNGAGUNG – 1September 2026 .Sejarah Indonesia tidak hanya mencatat perjuangan para tokoh yang bergerak secara terbuka melawan penjajahan di tanah air. Ada pula tokoh yang berada di lingkungan pemerintahan kolonial, tetapi menggunakan posisi tersebut untuk menyuarakan kepentingan dan masa depan bangsa Indonesia.
Salah satunya adalah Raden Adipati Ario Soejono, putra Tulungagung yang kemudian mencatat sejarah sebagai orang Indonesia pertama yang duduk dalam kabinet pemerintahan Belanda.
Kisah Ario Soejono menjadi menarik karena perjalanan politiknya berlangsung di tengah pergolakan besar Perang Dunia II. Ketika Belanda diduduki Jerman dan pemerintahan Belanda berpindah ke London, Soejono justru dipercaya masuk dalam pemerintahan pengasingan tersebut.
Pada 9 Juni 1942, Soejono diangkat sebagai menteri tanpa portofolio dalam Kabinet Gerbrandy II yang berkedudukan di London.
Pengangkatan itu menjadikannya tokoh Indonesia pertama yang memperoleh posisi menteri dalam pemerintahan Belanda.
Putra Tulungagung yang Meniti Karier di Pemerintahan
Ario Soejono lahir di Tulungagung, Jawa Timur, pada 31 Maret 1886. Ia berasal dari lingkungan bangsawan Jawa dan menempuh perjalanan panjang dalam birokrasi pemerintahan Hindia Belanda.
Kariernya membawanya menduduki sejumlah jabatan penting. Ia pernah dipercaya menjadi pejabat pemerintahan daerah hingga menjadi Bupati Pasuruan.
Pengalamannya sebagai birokrat membuat Soejono memiliki pemahaman yang cukup mendalam mengenai pemerintahan Hindia Belanda sekaligus kondisi sosial dan politik masyarakat Indonesia.
Ia juga terlibat dalam lembaga perwakilan dan pemerintahan kolonial. Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu alasan mengapa dirinya dipandang memiliki kapasitas untuk membawa perspektif masyarakat Indonesia ke dalam pemerintahan Belanda.
Ketika Perang Dunia II Mengubah Segalanya
Situasi berubah drastis setelah Jepang menguasai Hindia Belanda pada 1942.
Pemerintah kolonial Belanda kehilangan kekuasaannya di Indonesia. Sebagian pejabat dan tokoh pemerintahan kemudian meninggalkan wilayah Hindia Belanda.
Soejono akhirnya berada di luar Indonesia dan kemudian bergabung dengan lingkungan pemerintahan Belanda yang berpusat di London.
Saat itu, London menjadi pusat pemerintahan Belanda dalam pengasingan karena wilayah Belanda berada di bawah pendudukan Nazi Jerman.
Di tengah kondisi perang tersebut, Soejono memperoleh kepercayaan untuk masuk ke dalam kabinet.
Posisinya sebagai menteri bukan sekadar simbol. Kehadirannya memiliki arti politik karena untuk pertama kalinya seorang tokoh asal Indonesia berada di lingkaran pemerintahan tertinggi Belanda.
Dari Dalam Kabinet, Soejono Bicara tentang Masa Depan Indonesia
Menariknya, berada dalam pemerintahan Belanda tidak membuat Soejono berhenti memikirkan masa depan Indonesia.
Justru dari lingkungan pemerintahan tersebut, ia berusaha menyampaikan pandangan mengenai perubahan hubungan antara Indonesia dan Belanda setelah perang berakhir.
Pada 1942, Soejono menyampaikan pemikiran mengenai masa depan Hindia Belanda. Ia menekankan pentingnya memperhatikan keinginan masyarakat Indonesia untuk memiliki hak menentukan masa depan politiknya sendiri.
Gagasan tersebut pada masa itu tergolong berani.
Soejono memahami bahwa setelah Perang Dunia II berakhir, dunia tidak mungkin kembali begitu saja pada pola lama. Kesadaran nasional di Indonesia sudah berkembang dan tuntutan mengenai masa depan bangsa semakin kuat.
Ia mendorong agar pemerintah Belanda memberikan perhatian terhadap prinsip hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa Indonesia.
Dengan kata lain, Soejono tidak sekadar menjadi perwakilan Indonesia dalam pemerintahan Belanda. Ia juga berusaha menjadikan posisi tersebut sebagai ruang untuk menyampaikan suara mengenai masa depan bangsanya.
Tidak Semua Gagasannya Diterima
Perjuangan Soejono dari dalam kabinet tentu tidak mudah.
Gagasan mengenai hak menentukan nasib sendiri bagi Indonesia belum sepenuhnya mendapatkan dukungan dari lingkungan politik Belanda.
Pandangan Soejono mengenai perubahan hubungan Indonesia-Belanda bahkan berhadapan dengan sikap politik sebagian kalangan Belanda yang masih mempertahankan gagasan mengenai hubungan kolonial.
Namun, keberanian Soejono tetap menjadi catatan penting.
Ia menunjukkan bahwa persoalan Indonesia telah mulai dibicarakan bukan hanya di wilayah Hindia Belanda, tetapi juga di pusat pemerintahan Belanda di Eropa.
Jabatan Singkat, Jejak Sejarah Panjang
Masa Soejono sebagai menteri ternyata tidak berlangsung lama.
Ia meninggal dunia di London pada 5 Januari 1943, hanya beberapa bulan setelah dipercaya menjadi bagian dari Kabinet Gerbrandy.
Usianya ketika meninggal dunia sekitar 56 tahun.
Meski demikian, waktu yang singkat tersebut tidak menghapus arti penting perjalanan politiknya.
Nama Ario Soejono tetap tercatat dalam sejarah hubungan Indonesia dan Belanda sebagai orang Indonesia pertama yang duduk sebagai menteri dalam kabinet Belanda.
Lebih dari itu, kisahnya memperlihatkan sebuah paradoks sejarah.
Soejono pernah menjadi bagian dari pemerintahan kolonial, tetapi pada saat yang sama ia menyuarakan agar masa depan Indonesia tidak semata-mata ditentukan oleh kekuasaan kolonial.
Warisan Politik dari Seorang Putra Tulungagung
Bagi Tulungagung, kisah Ario Soejono menjadi bagian penting dari sejarah daerah yang melahirkan tokoh nasional dengan perjalanan politik yang unik.
Ia menempuh jalan berbeda dari banyak tokoh pergerakan pada zamannya. Ia tidak berada di garis perjuangan bersenjata dan tidak pula memimpin gerakan revolusioner di tanah air.
Namun, melalui jalur pemerintahan dan diplomasi, ia membawa persoalan Indonesia hingga ke London.
Perjalanan Ario Soejono juga menunjukkan bahwa perjuangan menuju kemerdekaan memiliki banyak jalur. Ada yang dilakukan melalui organisasi pergerakan, pendidikan, pers, diplomasi, maupun melalui ruang politik pemerintahan.
Soejono memilih jalur politik dari dalam lingkungan pemerintahan Belanda.
Dan dari posisi tersebut, ia berusaha menyampaikan satu gagasan yang kelak menjadi sangat penting dalam perjalanan sejarah Indonesia: bangsa Indonesia berhak menentukan sendiri masa depannya.
Karena itu, nama Ario Soejono layak kembali dikenang, bukan hanya sebagai orang Indonesia pertama yang menjadi menteri di Belanda, tetapi juga sebagai putra Tulungagung yang pada masa penuh gejolak berusaha membawa suara tentang masa depan bangsa Indonesia hingga ke pusat pemerintahan Belanda di London.
(Reina)
